Kepala Kucing Lebih Baik Daripada Ekor Harimau

Adalah andrin yang kini berusia 24 tahun, seorang pengusaha muda asal Kabupaten Lamongan Jawa Timur yang memegang teguh pepatah tersebut. Dia menjalankan usaha makanan khas timur tengah yaitu kebab. Dari awal lulus sekolah menengah atas keinginannya memang mendirikan sebuah usaha sendiri ketimbang mencari pekerjaan di perusahaan.

“Lebih baik jadi ‘kepala’ meskipun cuma ‘kepalanya kucing’, daripada ‘ekornya harimau’. Maksudnya adalah meskipun usaha kita masih kecil seperti kucing tapi kan kita menjadi kepalanya, daripada perusahaan yang sudah besar tapi kita hanya menjadi ekor atau menurut perintah”, tutur Andrin saat ditemui.

Baca Juga : Awas Tidak Bisa Digunakan | Cek IMEI HP Kalian Disini

Prinsip itulah yang dicamkan dalam pikiran pria lulusan SMA tersebut untuk menaikkan motivasinya dalam berwirausaha.

Graha Kebab

Dengan bermodalkan seadanya dari tabungan dan pinjaman dari bank, Andrin bertekad untuk meneruskan franchise “Kebab King” yang dikontrak oleh bosnya selama lima tahun belakangan ini. Dia memutuskan untuk membeli segala peralatan dari franchise sebesar Rp 5 Juta untuk dikelolanya sendiri dengan mengganti nama usaha menjadi “Graha Kebab”. Jadi setelah kontraknya selesai, dia mengakuisisi segala peralatan usaha yang dulunya ia hanya menjadi karyawan “Kebab King”.

“Bulan Juli kontrak franchise akan habis, saya berniat menjalankan usaha kebab ini dengan mengganti nama dan segala ornamennya karena saya melanjutkan dengan nama sendiri yaitu ‘Graha Kebab’ yang sesuai dengan nama perumahan tempat berjualan” terangnya.

Baca Juga : Pondok Gandrung | Ikan Bakar

Proses akuisisi usaha tersebut tidak terlepas dari andil pemilik franchise. Andrin memiliki kepercayaan dari sang pemilik untuk meneruskan usaha tersebut. Selama hampir lima tahun bekerja menjadi karyawan, dia cukup mahir untuk menjalankan usaha kebab tersebut. Maka dibelilah segala peralatan seperti gerobak, teflon, pisau, dan masih banyak lagi untuk dilanjutkan menjadi usahanya sendiri tanpa embel-embel franchise lagi.

Dengan mengontrak rumah di perumahan Graha Asri Sukodono Sidoarjo, dia menjual kebabnya mulai pukul 15.00 sore sampai 23.00 malam. Pembelinya berasal dari dalam dan sekitar perumahan tempatnya tinggal yang sudah lama mengenal kebab buatannya. Harga jualnya pun bersaing dengan kebab lain disekitarnya.

Salah Satu Konsumen Graha Kebab

Begitupun cita rasa kebabnya pun lezat dan mempunyai ciri khas. Karena dia menambahkan resep rahasia. Selain itu porsinya sedikit lebih banyak dari kebanyakan kebab yang dijual di tempat lain.

Baca Juga : BPJS Kesehatan

Rata-rata omzet yang diraupnya dalam sehari tidak kurang dari Rp 500.000,- dalam sehari. Apabila musim hujan, omzetnya bisa naik sampai 30% dari kemarau. Karena kebab cocok dimakan saat kondisi cuaca dingin.

Pria yang baru saja menikah ini ingin sekali berdiri di atas kakinya sendiri daripada ikut bekerja di perusahaan asing. Keinginannya menjadikan Indonesia menjadi negara maju yang memiliki banyak wirausaha muda yang kaya akan inovasi, inspirasi dan jiwa berapi-api untuk menjadikan Indonesia lebih bersaing dengan bangsa asing. Melaluinya dia berharap bisa menginspirasi generasi muda dalam membuka wirausahanya sendiri. “Saya ingin menjadi inspirasi untuk generasi penerus bangsa agar mendirikan usaha sendiri sebagai pijakan untuk kehidupannya berbangsa dan bernegara, semoga selalu ada jalan dalam menggapainya”, harapan Andrin saat ditemui di tempatnya berjualan.

ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK

Sistem zonasi sekolah dalam penerimaan siswa baru yang tahun ini diterapkan untuk jenjang sekolah menengah di Indonesia menuai banyak pro dan kontra. Ada yang setuju dengan sistem baru itu namun tidak sedikit pula yang menolak. Kantor Dinas Pendidikan di pusat sampai daerah banyak diserbu orang tua siswa yang masih kebingungan dengan sistem zonasi tersebut. Bahkan beberapa dari mereka langsung mendaftarkan anaknya ke lembaga pendidikan swasta karena negeri mengutamakan siswa yang jarak rumahnya paling dekat..

ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN
SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN

Sistem zonasi sekolah sendiri menurut Permendikbud No 51 Tahun 2018 merupakan sistem penerimaan siswa baru yang mengutamakan domisili siswa dalam radius terdekat dengan tempat menempuh ilmu. Lebih spesifik yang dimaksud adalah jarak kantor desa atau kelurahan dengan sekolah yang dituju. Misal jarak rumah tersebut sama antar siswa, maka pertimbangan selanjutnya adalah siswa yang mendaftar lebih dulu. Sistem penerimaan secara zonasi ini sendiri berbeda-beda penerapan di setiap daerah. Tapi umumnya lembaga pendidikan menggunakan beberapa indikator seperti jarak rumah dengan sekolah, waktu pendaftaran, dan pemeringkatan nilai ujian.

Setidaknya ada beberapa manfaat dengan penerapan sistem zonasi tersebut. Seperti pengawasan orang tua terhadap anak menjadi lebih mudah karena jarak rumah tidak jauh. Waktu tempuh siswa menjadi lebih cepat sehingga orang tua lebih maksimal mengawasi. Tentu harapan ke depan adalah pola asuh orang tua terhadap anak menjadi lebih baik yang berbuah pada karakter anak yang lebih baik.

Perbaikan Kualitas Pendidikan

Seperti di Inggris, penerapan sistem zonasi sekolah tersebut membuat siswa mampu belajar dengan lebih baik sehingga kualitas akademik siswa meningkat. Hal ini terjadi karena intensitas siswa mendapat gangguan dari lingkungan luar bisa diminimalisir.

Manfaat selanjutnya meminimalisir angka kecelakaan di jalan yang melibatkan anak-anak saat menuju ke tempat menempuh ilmu. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh itu maka siswa dapat menempuhnya dengan moda transportasi yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Misalnya saja mengayuh sepeda atau menggunakan transportasi umum yang banyak tersedia, sehingga siswa lebih aman selama perjalanan.

Selain itu, bagi lembaga pendidikan sendiri akan menyetarakan kualitasnya dengan lembaga pendidikan lain. Ini bisa terjadi karena sekolah tidak lagi menggunakan nilai ujian dalam proses masuknya. Siswa dengan kompetensi yang berbeda-beda bisa belajar di tempat yang sama. Dominasi lembaga pendidikan favorit akan hilang digantikan dengan sekolah yang sama-sama baik dari segi kualitas input maupun outputnya. Kesenjangan antara sekolah favorit dengan yang tidak favorit akan hilang karena lembaga pendidikan akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Penyebaran lembaga pendidikan yang menjunjung kualitas akan meningkat di berbagai daerah.

Meskipun begitu, sistem zonasi sekolah juga memiliki berbagai kelemahan seperti masih bingungnya para orang tua siswa dalam menentukan sekolah yang tepat bagi anak. Hal ini tidak terlepas dari stigma negatif yang menginginkan siswa menempuh ilmu di sekolah favorit dengan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembangnya. Namun semua optimis dengan berbagai manfaat tersebut menjadikan semua stakeholder dunia pendidikan akan mampu menjadikan kualitas pendidikan yang lebih baik kedepannya.