ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK

Sistem zonasi sekolah dalam penerimaan siswa baru yang tahun ini diterapkan untuk jenjang sekolah menengah di Indonesia menuai banyak pro dan kontra. Ada yang setuju dengan sistem baru itu namun tidak sedikit pula yang menolak. Kantor Dinas Pendidikan di pusat sampai daerah banyak diserbu orang tua siswa yang masih kebingungan dengan sistem zonasi tersebut. Bahkan beberapa dari mereka langsung mendaftarkan anaknya ke lembaga pendidikan swasta karena negeri mengutamakan siswa yang jarak rumahnya paling dekat..

ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN
SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

ZONASI SEKOLAH UNTUK KUALITAS PENDIDIKAN

Sistem zonasi sekolah sendiri menurut Permendikbud No 51 Tahun 2018 merupakan sistem penerimaan siswa baru yang mengutamakan domisili siswa dalam radius terdekat dengan tempat menempuh ilmu. Lebih spesifik yang dimaksud adalah jarak kantor desa atau kelurahan dengan sekolah yang dituju. Misal jarak rumah tersebut sama antar siswa, maka pertimbangan selanjutnya adalah siswa yang mendaftar lebih dulu. Sistem penerimaan secara zonasi ini sendiri berbeda-beda penerapan di setiap daerah. Tapi umumnya lembaga pendidikan menggunakan beberapa indikator seperti jarak rumah dengan sekolah, waktu pendaftaran, dan pemeringkatan nilai ujian.

Setidaknya ada beberapa manfaat dengan penerapan sistem zonasi tersebut. Seperti pengawasan orang tua terhadap anak menjadi lebih mudah karena jarak rumah tidak jauh. Waktu tempuh siswa menjadi lebih cepat sehingga orang tua lebih maksimal mengawasi. Tentu harapan ke depan adalah pola asuh orang tua terhadap anak menjadi lebih baik yang berbuah pada karakter anak yang lebih baik.

Perbaikan Kualitas Pendidikan

Seperti di Inggris, penerapan sistem zonasi sekolah tersebut membuat siswa mampu belajar dengan lebih baik sehingga kualitas akademik siswa meningkat. Hal ini terjadi karena intensitas siswa mendapat gangguan dari lingkungan luar bisa diminimalisir.

Manfaat selanjutnya meminimalisir angka kecelakaan di jalan yang melibatkan anak-anak saat menuju ke tempat menempuh ilmu. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh itu maka siswa dapat menempuhnya dengan moda transportasi yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Misalnya saja mengayuh sepeda atau menggunakan transportasi umum yang banyak tersedia, sehingga siswa lebih aman selama perjalanan.

Selain itu, bagi lembaga pendidikan sendiri akan menyetarakan kualitasnya dengan lembaga pendidikan lain. Ini bisa terjadi karena sekolah tidak lagi menggunakan nilai ujian dalam proses masuknya. Siswa dengan kompetensi yang berbeda-beda bisa belajar di tempat yang sama. Dominasi lembaga pendidikan favorit akan hilang digantikan dengan sekolah yang sama-sama baik dari segi kualitas input maupun outputnya. Kesenjangan antara sekolah favorit dengan yang tidak favorit akan hilang karena lembaga pendidikan akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Penyebaran lembaga pendidikan yang menjunjung kualitas akan meningkat di berbagai daerah.

Meskipun begitu, sistem zonasi sekolah juga memiliki berbagai kelemahan seperti masih bingungnya para orang tua siswa dalam menentukan sekolah yang tepat bagi anak. Hal ini tidak terlepas dari stigma negatif yang menginginkan siswa menempuh ilmu di sekolah favorit dengan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembangnya. Namun semua optimis dengan berbagai manfaat tersebut menjadikan semua stakeholder dunia pendidikan akan mampu menjadikan kualitas pendidikan yang lebih baik kedepannya.